27 blogger komat-kamit

Dulu di Tanah, Sekarang...

Saya masih ingat, dulu waktu masih kecil saya suka bermain di atas tanah dengan telanjang kaki. Bukan untuk main bola atau kelereng, tapi bikin corat-coret di atas tanah. Saya ambil sebatang kayu lidi, saya cari tanah yang teksturnya halus, lalu mulailah saya bermain dengan gambar. Sangat menyenangkan dan natural. Tidak perlu mengeluarkan biaya sama sekali untuk belajar menggambar seperti ini. Mungkin dari sinilah cikal bakal saya berkenalan dengan dunia rupa. Dan sekarang, saya juga masih terus belajar.

Tidak bisa melukis dengan kuas? jangan khawatir. Masih banyak alternatif yang lainnya. Kita bisa memanfaatkan pelepah daun pisang yang ditempel, melukis dengan medium pasir, melukis di atas kue tart, dan sebagainya.

Beberapa gambar di bawah ini semoga bisa menjadi inspirasi kita dalam berkarya. Selamat menikmati dan selamat berkarya.

Melukis dengan cahaya (salah satu teknik dalam seni fotografi)
Melukis di atas lantai (jalan trotoar)
Melukis di atas debu yang menempel pada kaca mobilMelukis dengan rambut manusia sebagai kuasnya (apa nggak kasihan ya?)
Melukis dengan media "daun pacar"
Melukis dengan pelepah daun pisang atau sejenisnya
Melukis di atas kue (saya belum sempat nyoba)
Melukis pada tubuh manusia (body painting)
Melukis dengan pasir (waah, harus sabar kayaknya)
Melukis dengan darah (hmmm..., ngeri yak)

Gambar:
Berbagai Sumber
30 blogger komat-kamit

Dahsyatnya Pecel Madiun


Satu porsi nasi pecel Madiun


Nafsu makan berkurang



Di sekitar rumah orangtua saya, di Sidoarjo, ada seorang penjual pecel Madiun. Saking enaknya, sekali makan pasti pingin nambah. Lidah saya yang sudah kangen cukup lama hari ini tumben minta dituruti. Mumpung di kantor ada bazaar makanan, saya langsung aja nyerbu TKP.

Awalnya sih saya masih selera karena laparnya perut ini udah luar biasa. Saya cuma ambil tahu dan tempe bacem, favorit saya. Tanpa pesan minum--karena kebetulan saya bawa di tas kesayangan saya. Tidak disangka, tahu dan tempe rasanya tidak seperti biasanya. Nafsu makan saya turun perlahan.

Dahsyatnya pecel Madiun sudah tidak membekas lagi di lidah saya. Mungkin karena rasanya yang agak aneh hari ini. Tapi alhamdulillah saya bisa menghabiskannya, kecuali sendok dan garpu. Nggak pake lama, saya langsung mendatangi penjual, berniat mau bayar.

Berapa mbak? saya tadi pake tahu sama tempe aja.
Empat belas ribu, mas.
Glek!! nggak salah mbak? kemarin lalu saya beli di sini 7.000, yang jual Ibu mbak (saya ngerayu)
Iya mas, empat belas ribu.

Saya keluarkan dua puluh ribu dari dompet, untung masih ada. Kalo nggak pasti bingung saya, sementara di ATM tadi penarikan tunai lagi error. Huh!mphfff!! Tapi saya ikhlaskan aja, mungkin ini bukan rejeki saya.

Bergegaslah saya melanjutkan perjalanan selanjutnya. Saat beristirahat di Masjid, saya sempatkan buat ilustrasinya. Meskipun bawa my sketchboard di bag, saya malas aja sih nggambar disana.

Pelajaran yang saya dapat hari ini: sabar. Karena sabar saya bisa nggambar. Lho?? nggak nyambung yak!!
37 blogger komat-kamit

Celotehan dan Kopdar

Guess like who this woman is? Mirip siapa hayo? yang jelas bukan mirip Monalisa, bukan juga Kartini ataupun Megawati. 'Kan kalo Megawati ada tahi lalat di bawah bibirnya. Tul nggak??

Ceritanya begini, saat itu saya sedang menikmati sebuah foto gadis dari Bali yang saya temukan dari sebuah web. Alamat webnya saya sudah lupa (sayang sekali). Karena saking bagusnya foto itu, tangan saya gatel, pingin banget buat nggambar. Meskipun foto aslinya berwarna (natural), tapi saya berharap gambar yang saya buat ini juga nggak kalah. Dasar tukang iseng! ada-ada saja yang digambar.

Menjadi model lukis menurut hemat saya tidak wajib berparas sempurna. Toh manusia juga nggak ada yang sempurna. Nggak juga harus pinter berpose, karena dia bukan model untuk fotografi. Pose bisa juga diarahkan sama pelukisnya. Dasar tukang ngelamun! ada-ada saja yang dibayangkan.

Oya, ngomong soal gambar, kemarin (29/06) saat saya berangkat kopdar BATAGOR V di Bandung, kebetulan saya bawa papan skets. Rama, teman seperjalanan yang duduk di depan saya bertanya. "Emang tiap hari dan kemana-mana bawa papan skets gitu yak?" saya jawab aja "ya enggak, ini kan cuma kebetulan. Daripada nggak ada kerjaan, tidur juga nggak bisa". Sementara itu Imam yang duduk di samping kanan saya cuma mendengarkan saja. Dalam hati saya berkata, "enak kalian yang bawa kamera bisa motret, kalo saya yang bawa kertas sama pensil masak harus gambar dulu untuk ngabadikan momen?" Hehehe... keburu lewat kali. Dasar tukang protes! ada-ada saja yang dibicarakan.

Dan gambar di bawah ini adalah bukti bahwa saya kemarin ikut kopdar. Beneran 'kan kalo saya nggak HOAX?? Dasar blogger! ada-ada saja caranya ngebuktiin.


Tentang Gambar:
Media: Kertas, Pensil Warna
Ukuran: -
Tahun: 2008
Teknik : Hand Drawing

Gambar paling bawah diambil dari sini
 
;