Showing posts with label Kopdar. Show all posts
Showing posts with label Kopdar. Show all posts
22 blogger komat-kamit

Elemen Desain

SALAH satu elemen desain adalah garis. Garis dibentuk oleh sekumpulan titik yang rapat satu sama lain. Fungsi garis selain untuk membatasi juga untuk meningkatkan keterbacaan kita pada sebuah tulisan. Sebagai contohnya, perhatikan bon/nota di bawah ini.

Jika garis-garis itu tidak ada, mata kita bisa kehilangan arah dalam membaca. Bisa-bisa satu porsi soto ayam dihargai sama dengan satu es kopyor, atau harga satu es kopyor dihargai satu teh botol. Nah lho! Menguntungkan bagi pembeli, merugikan bagi penjual. Eitsss!!! stop!! Jangan ngiler ya bayangin menu yang kami pesan saat kopd[art]#2 di Ancol tadi siang .

Okeh, kembali lagi soal garis. Variasi garis juga bermacam-macam bentuknya. Ada yang tipis, tebal, tebal tipis, putus-putus atau kombinasi. Coba ambil koran di sekitar anda. Lihat, amati, dan rasakan..., betapa garis bisa membantu mata kita untuk membedakan mana itu misalnya berita utama, mana itu berita features, dan seterusnya. Dengan garis, layout (baca: tata letak) koran pun jadi tampak rapi nan indah mempesona *lebay

Semoga bermanfaat!!

Bahan bacaan:
http://gugundesign.wordpress.com/2007/08/07/elemen-desain-grafis/
http://belajardekavesatu.blogspot.com/2007/10/elemen-elemen-desain.html

Kopdar ini menurut saya cukup berkualitas!!
Makasih buat Mas Fery dan Ebong yang sudah mendukung kopdar ini

26 blogger komat-kamit

Edan!!

Kopdar “Amazing Race” di Bandung
dan Semangat Kemerdekaan


BERGERAK dari pukul 05.15 WIB, senin (18/08), kereta yang saya tumpangi dari Gambir itu menuju Stasiun Bandung. Sepanjang perjalanan saya berharap kereta parahyangan yang saya tumpangi itu bisa tiba tepat waktu.

Beberapa menit kemudian, setelah kereta itu melaju ada bunyi dari radio MP3 player saya, “blep, ctrztztzt”, hwaduh… “sepertinya saya kehilangan frekwensi nih”, kata saya dalam hati. Gimana ya?! Mana MP3 playernya belum diiisi lagi. Saya bingung mau ngapain—secara saya berangkat ke Bandung juga sendirian (Rama, Imam, Mas Edy dan Lala batal ikut).

Ongkos naik kereta kelas bisnis Jakarta-Bandung lumayan murah. Hanya dengan Rp 20.000 saja kita sudah bisa sampe tujuan (dapat tempat duduk pula). Beda halnya Bandung-Jakarta, uang Rp 20.000 cuma bisa buat berangkat saja. Bisa sih duduk, tapi di bawah (beralaskan koran), mau tiduran juga gakpapa kalo nggak malu sama penumpang (saya pastikan bakal ada gangguan dari pelayan yang mondar-mandir jual makanan). Kalo nggak kuat berdiri selama 3 jam gimana? Yaudah, keluarin aja uang Rp 35.000. Beres sudah.

Perjalanan saya sebagai bagpacker amatiran kali ini lebih menantang. Gimana enggak, setelah nyampe di Bandung informasi lokasi yang saya dapatkan ternyata tidak diketahui sama tukang ojek atau akang becak disana. Masak sih mereka nggak ngerti Taman Walikota?!! Udah gitu nomor contact person yang saya dapatkan dari blog penyelenggara kopdar ternyata tidak bisa dihubungi alias mati. Sebenarnya saya rada buru-buru karena tidak bisa datang tepat waktu. Tapi semuanya saya anggap sante aja, saya tahu pasti nanti ada jalan keluarnya. Mau kamana, Kang?

“Mmmhufff!!”, saya mengeluarkan napas panjang supaya tetap tenang. “Lho saya kan punya kenalan—orang terpercaya di Bandung, kenapa nggak saya telpon dia aja?!!, spontan saya. Hanya dalam hitungan detik, hape CDMA saya yang bernomor esia gogo itu berbunyi. “Halo, ini Mas Anton ya…, bla bla bla… bla bla bla…”. Okeh sip, nggak pake lama saya langsung melangkahkan kaki ke TKP (Tempat Kumpul Peserta). Naik mikrolet, lalu jalan kaki, tanya sana-sini, jalan lagi dan akhirnya sampai juga. Tidak malu bertanya, tidak sesat di jalan. Hahaha....

Nan jauh disana saya mendapati puluhan blogger peserta kopdar sudah berkumpul. Kopdar kali ini tanpa dreskod khusus. Mereka tampak berbaris rapi. Saya yang baru datang dan agak telat ini langsung diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri. Hihihi, saya maju dengan pedenya.

Dalam acara kopdar bertema “Amazing Race” ini, peserta diharapkan bisa kompak dengan timnya dalam memecahkan teka-teki atau pertanyaan yang diberikan panitia. Satu tim yang terdiri 5-6 orang itu tidak lupa mengabadikan foto-foto selama di jalan. Hukumnya wajib, Bo!!

Saya sempat menyusuri satu daerah di tengah kota yang keren banget lho (saya lupa nama jalannya). Saya sempat merasakan udara bersih, ditambah lagi hembusan angin sepoi-sepoi. Mata saya dimanjakan setelah berjalan menyusuri puluhan toko berarsitektur kuno menjual ratusan lukisan koleksi mereka. Sebagai kawasan wisata budaya, tempat ini menurut saya cukup mendapat perhatian dari pemerintah kota, lokasi itu kelihatan bersih dan rapi. Saya merasa seperti di luar negeri aja. Mungkin inilah kenapa Bandung disebut Paris van Java. I Love Bandung very much.

Kembali lagi ke topik. Kopdar dengan ide seperti ini menurut saya cukup unik. Kenapa? Karena saya—sebagai orang yang bukan berasal dari Bandung—bisa mengenal lebih jauh budaya lokal di kota ini, dan saya pun masih ada kesempatan untuk mengakrabkan diri dengan tim saya. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Hahaha…

Saya mendapatkan manfaat lebih dari kopdar kali ini. Percaya atau tidak, saya semakin cinta dengan budaya lokal indonesia. Belum lagi nanti kalo ada kesempatan kopdar di kota lain. Mmm…, pas banget tuh kalo dihubungkan sama momen kemerdekaan ini. Kita bisa menumbuhkan semangat nasionalisme dan semangat untuk mencintai budaya yang kita miliki.

Hanya saja, semangat saya, kecintaan saya akan Indonesia ini mulai luntur lagi setelah kereta yang saya tumpangi itu tiba di Jatinegara, Jakarta. Ratusan atau bahkan mungkin ribuan orang pengguna jasa kereta tampak tak teratur; mereka memadati, menyesaki stasiun kecil yang berlokasi di Jakarta Timur ini.

Penjual makanan, penumpang yang hilir mudik, tumplek blek di satu tempat. Udara AC yang sempat saya rasakan dalam kereta tadi sudah nggak ada lagi. Inilah realita udara alami Jakarta yang akan saya rasakan mulai sekarang, besok, dan besoknya lagi. Bau tak nyaman, apek, pesing, dan lain-lain yang mungkin lebih menjijikkan lagi.

Sementara itu, setelah saya berhasil keluar dari stasiun, saya sempat merasa bak selebritis. Bukan paparazzi (baca: wartawan) yang berebut mengabadikan foto saya, tapi tukang ojek yang berebut menawakan jasa. “Mas, ojeknya mas?!”, “Ojek-ojek!!”, “Mau kemana, Mas? ojek ya?!!”. Bibir saya lalu tersenyum kecil, menolak halus puluhan tukang ojek yang terus saya temui itu. Hwaaaaa…., Jakartaku….., Indonesiaku!!! Merdeka deh pokoknya!!!

Tukang ojek, mikrolet, sopir taksi dan pengguna jalan berkumpul jadi satu. Tak ada bedanya mana trotoar dan mana badan jalan. Puluhan kendaraan seperti raja jalanan dengan asap tebal, bunyi knalpot kopaja koar-koar, dan bajaj lalu lalang entah mau ke kiri atau ke kanan.
Edan!! Terlalu bersemangat agaknya….!!

Jakarta, 19 Agustus 2008 pukul 08.14 WIB

Foto-foto diambil dari http://www.emfajar.net/

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ANDA MASIH PEDULI DENGAN NEGERI INI??
IKUT KONTES KOMEN YUK...

Klik sekali gambar di atas untuk mengikuti
22 blogger komat-kamit

Enaknya Kopd[art] di Taman Menteng

SAYA sudah lupa berapa lama tidak mengunjungi pameran seni lukis. Bersama blogger kopd[art], hari minggu (3/8), kemarin kami mengunjungi pameran lukis karya Didit, cucu Affandi, pelukis Maestro Dunia, di Taman Menteng, Jakarta Pusat.

Lala (kiri) dan Sharen (kanan) mengapresiasi lukisan mas Didit

Kepincut dengan karyanya yang memang mempunyai sedikit kemiripan dengan Affandi, saya memberanikan diri maju--membuka obrolan ringan dengan beliau. Ingin menggali lebih dalam soal karyanya (niat saya).

Topi putih berlambangkan bloggerbenteng, cinderamata kopdar Monas saya lepas dari kepala, tanda hormat saya kepada beliau. Sementara itu tangan saya satunya sudah siap dengan spidol hitam permanen yang rencananya mau buat tanda tangan itu.

Ngobrol santai sama Mas Didit

Saya memperkenalkan diri. Menjabat erat tangannya. "Mas Didit (dipanggil mas karena gayanya seperti anak muda), nama saya Anton dari komunitas blogger Jakarta. Blog saya berisikan dunia visual, dan saya tertarik untuk berbincang-bincang sedikit tentang karya anda. Barangkali bisa saya review begitu? Mas punya waktu? bla...bla...bla...", kira-kira seperti itul awal pembicaraan saya dengannya.

Beruntung nasib kami saat itu. Beliau menyisihkan waktunya untuk berdiskusi dengan saya, sementara teman-teman yang bawa kamera bersiap mengabadikan momen ini. Tanpa ba-bi-bu, saya pun langsung mencoba beradaptasi, menyodorkan beberapa pertanyaan yang sedari tadi sudah membuat saya penasaran.

Sialnya, saya tidak membawa recorder atau MP3 player saya yang ada fasilitas rekam itu. Sialnya lagi, saya nggak membawa identitas macam kartu nama untuk diberikan. Siapa tau nanti blog saya dikunjungi dan diapresiasi, 'kan lumayan.

Makasih buat Rama yang sudah mengingatkan saya untuk sedia kartu nama. Makasih buat mas Fery yang memberikan motivasi saya untuk tetap berkarya. Juga kepada Budi yang selalu membawa kameranya. Serta Puspa dan calon adiknya, Lala dan temannya (mbak Ve) yang sudah datang jauh-jauh untuk acara kopd[art] ini. Semoga kopdar selanjutnya lebih seru lagi dan lebih banyak kejutan lagi.

Searah jarum jam: nunggu makan, Foto bareng di taman, foto bareng di pancuran,
Foto bareng Mas Didit


Foto-foto dirampok dari blog budi, puspa, lala, dan erika

Liputan kopd[art] bisa diklik di:
49 blogger komat-kamit

Di Hari Tanpa TV ada Kopdar

Bingung karena hari ini (20/7) dicanangkan hari tanpa TV? saya tidak bingung tuh. Mungkin sebagian orang bingung harus menyikapi seperti apa. Menolak atau mendukungnya.

Dua tahun yang lalu, hari tanpa TV diperingati pada tanggal 20 Juli. Mengapa ya tahun ini tanggalnya bergeser tiga hari? ada yang tahu penyebabnya? ah sial!! kenapa saya telat informasi?! yang jelas hari ini adalah hari istimewa* bagi saya, karena hari ini acara kopi darat (gathering) ketiga saya--di Ragunan Zoo, Jakarta--berlangsung sukses.

Ngomong soal TV nih. Kenapa saya lebih mencintai media cetak atau internet ketimbang TV? karena saya tahu bahwa acara TV di Indonesia itu tidak bagus sepenuhnya. Artinya apa? tayangan sadisme, kriminalitas, gosip, dan sederet sinetron nggak jelas itu sudah terlalu banyak kita konsumsi. Parahnya lagi, beberapa ibu rumah tangga--yang aktifitasnya terlampau banyak--menganggap bahwa TV bisa berperan bak babysitter, dimana si anak bisa duduk diam tenang; sambil menonton tayangan film animasi atau yang lainnya. Syukur-syukur anaknya nggak menangis, titik.

Padahal berdasarkan penelitian, film animasi atau kartun juga mengandung kekerasan dan tayangan serupa lho. Beberapa kawan saya, tertarik untuk mengkaji dampak tayangan kartun terhadap anak-anak. Mereka mengangkatnya dalam skripsi.

Kalau kita masih sayang sama diri kita, adik kita, keluarga kita dan anak-anak kita, maka sepatutnya kita memposisikan TV bukan sahabat yang baik untuk kita. Mari kita konsumsi TV seperlunya. Pilih tayangan yang layak konsumsi dan syarat edukasi. Jangan biarkan waktu kita terbuang percuma, demi beberapa tayangan yang tak ada gunanya itu.

Tentunya tulisan di atas masih kurang lengkap. Saya ajak anda untuk berbagi. Kemukakan pendapat dan pengalaman anda. Ruang publik milik kita bersama...

OoT (Out of Topic):
Supaya tidak dikatakan hoax, inilah suasana saat kopdar di Ragunan Zoo, Jakarta, tadi siang.
Saya duduk santai di tengah (kaos hijau), posisi paling depan sendiri :)


Tentang Ilustrasi:
Teknik: Drawing manual, Pensil Warna, 2008

*) Tebakan Mas Fery (brainwashed) benar.
Hari ini saya ulang tahun beneran kok,
makasih blogger Jakarta dan sahabat-sahabat saya semua
27 blogger komat-kamit

Dreskod Kopdar Ragunan

GATHERING/kopdar alias kopi darat yang sebelumnya pernah saya ikuti berwarna putih, kali ini bakal berbeda. Menurut Bena, si bloger autis sekaligus penyelenggara kopdar Ragunan (20/07), kalo mau ikut acara ini sebaikya memakai baju bertema flora dan fauna (cari bahasa inggrisnya).

SAYA tidak mendapat keterangan lebih lanjut mengapa tema dreskod seperti itu. Hanya saja saya menduga, barangkali supaya matching aja dengan lokasi dan tujuan kita berkumpul.

MENURUT sms yang saya terima dari Ridu pada tanggal 7 juli 2008 kemarin, kita (peserta kopdar) bisa ketemuan di depan halte busway Ragunan dulu, tepat jam 11.00 WIB. Selanjutnya masuk kesana bareng-bareng. Murah kok tiketnya, katanya sih cuma Rp 5000,- dan bisa pilih lokasi foto sepuasnya. Sekedar perbandingan, terakhir saya ke Kebon Binatang Surabaya (KBS) tiket masuknya sudah Rp10.000. Maklum, KBS ‘kan punya koleksi satwa terlengkap se-Asia Tenggara.

DARI salah satu peserta yang sudah mendaftarkan dirinya, ada yang merencanakan mau pake topi kepala kucing. Hahaha!! Kreatif juga. Kalo saya cocoknya pake baju apa ya? Gimana kalo saya pake topeng Batman aja? Ah, nggak ah. Ntar orang-orang pada takut. Saya bingung soalnya, belom punya baju flora fauna sih. Pake baju bunga-bunga? Waow…, ntar saya dikira cowok apaan. Pake baju Catwoman? ah sudah dipake sama si Lala.

KREATIF itu boleh-boleh aja. Bahkan it must to be menurut saya. Dreskod sebagai identitas berfungsi untuk memudahkan peserta kopdar mengetahui satu sama lain. Gara-gara dreskod ini saya terinspirasi bikin ilustrasinya. Silakan menikmati dan mengomentari...

Penasaran pingin ketemu sama saya? *narsis mode on*, ikutan yuk biar seru!!! Semoga kita semua diberi kesempatan untuk niat yang mulia ini
37 blogger komat-kamit

Celotehan dan Kopdar

Guess like who this woman is? Mirip siapa hayo? yang jelas bukan mirip Monalisa, bukan juga Kartini ataupun Megawati. 'Kan kalo Megawati ada tahi lalat di bawah bibirnya. Tul nggak??

Ceritanya begini, saat itu saya sedang menikmati sebuah foto gadis dari Bali yang saya temukan dari sebuah web. Alamat webnya saya sudah lupa (sayang sekali). Karena saking bagusnya foto itu, tangan saya gatel, pingin banget buat nggambar. Meskipun foto aslinya berwarna (natural), tapi saya berharap gambar yang saya buat ini juga nggak kalah. Dasar tukang iseng! ada-ada saja yang digambar.

Menjadi model lukis menurut hemat saya tidak wajib berparas sempurna. Toh manusia juga nggak ada yang sempurna. Nggak juga harus pinter berpose, karena dia bukan model untuk fotografi. Pose bisa juga diarahkan sama pelukisnya. Dasar tukang ngelamun! ada-ada saja yang dibayangkan.

Oya, ngomong soal gambar, kemarin (29/06) saat saya berangkat kopdar BATAGOR V di Bandung, kebetulan saya bawa papan skets. Rama, teman seperjalanan yang duduk di depan saya bertanya. "Emang tiap hari dan kemana-mana bawa papan skets gitu yak?" saya jawab aja "ya enggak, ini kan cuma kebetulan. Daripada nggak ada kerjaan, tidur juga nggak bisa". Sementara itu Imam yang duduk di samping kanan saya cuma mendengarkan saja. Dalam hati saya berkata, "enak kalian yang bawa kamera bisa motret, kalo saya yang bawa kertas sama pensil masak harus gambar dulu untuk ngabadikan momen?" Hehehe... keburu lewat kali. Dasar tukang protes! ada-ada saja yang dibicarakan.

Dan gambar di bawah ini adalah bukti bahwa saya kemarin ikut kopdar. Beneran 'kan kalo saya nggak HOAX?? Dasar blogger! ada-ada saja caranya ngebuktiin.


Tentang Gambar:
Media: Kertas, Pensil Warna
Ukuran: -
Tahun: 2008
Teknik : Hand Drawing

Gambar paling bawah diambil dari sini
19 blogger komat-kamit

Changing of Makna



“Polisi tidur” adalah sebuah istilah saja. Polisi tidur berbentuk sebuah gundukan di tengah jalan yang fungsinya untuk menghambat laju kendaraan supaya tidak terlalu kencang larinya. Polisi tidur mudah kita temukan di tengah kampung, maklum karena di kampung suka ada oknum yang ugal-ugalan kalo ngendarai kendaraan bermotornya. Sebenarnya dia pingin pamer aja kalo motornya bagus. Hehehe, Piss...

Saya pernah menemukan dua buah ilustrasi yang menggambarkan polisi tidur dimana polisi tidur tersebut digambarkan tidak umum—tapi bagus secara visual. Pertama karya Adimboy, selanjutya karya Arif Hidayat, rekan kerja saya. Masak polisi tidur digambarkan sedang tidur beneran di tengah jalan? kontan saja saya tertawa lepas. Hahaha...

Terinspirasi dari gambar tersebut, kali ini saya mencoba membuat ilustrasi “kopi darat” (gathering) secara tidak umum juga. "Kopi darat" yang dalam kamus saya adalah sebuah ajang pertemuan dimana orang yang baru mengenal di dunia maya akhirnya bisa saling bertemu di lokasi yang mereka tentukan bersama ternyata tidak saya gambarkan seperti itu. Di sini saya menggambarkan ada dua orang (orangan) yang sedang duduk dalam sebuah cangkir kopi berukuran raksasa. Ya! Inilah kopi darat versi saya.

Anda punya istilah lain yang lebih konyol untuk kita tertawakan bersama?

Tentang Gambar:
Media: Kertas, Cat air, Drawing Pen
Ukuran: -
Tahun: 2008
Teknik : Hand Drawing
13 blogger komat-kamit

Cobain Kopdar Ah...





Kebersamaan dan keakraban jarang saya dapatkan selama tinggal di Ibukota. Bayangin aja, tiap hari kerjaannya ngejar deadline di depan komputer. Alhamdulillah, hari minggu siang kemarin (15/6), saya dapat kesempatan untuk mengikuti kopi darat alias gathering bersama bloger Jakarta. Yess!! yess!!

Banyak blogger yang rumahnya sering saya kunjungi hadir disana. Beberapa yang saya kenal misalnya ada Ridu, Bena(zio), Blogerbenteng dan Edy Caplang. Turut hadir juga sesepuh blog yaitu Ndoro Kakung. Jumlah yang datang awalnya sih cuma enam orang yang terbagi dua kubu (kayak perang aja yak?!). Dua kubu itu berada di tempat yang berbeda. Maklum, pintu selatan Monas kayaknya masih terlalu luas bagi manusia-manusia kecil kayak kita ini. Jadi, pandangan kita terbatas banget untuk mencari orang yang berbaju putih (dress code yang disepakati). Saya yang ngeyel pak baju hitam jadi keliatan beda banget. Jreeeng!! hohoho. Maklum, baru pulang dari tempat kerja jadi gak sempat ganti baju gitu. Berarti belum mandi dunk?? Hahaha... udah dunk. Tadi pagi kan sempat hujan. Kan sama aja!!? piss

Oya, informasi baru nih, Ndoro kakung adalah orang yang mendapatkan kepercayaan sebagai pelaksana pesta blogger pada pertengahan Oktober 2008 mendatang. Kalo belum kenal beliau, klik aja di sini.

Hmfh!! capek jalan muterin monas dan berpose di depan ribuan kamera. Mana gigi udah kering gara-gara banyak senyum lagi. Pas udah sorean (pukul 16.10WIB) saya pamit undur diri dan sebagian bloger masih mau jalan-jalan ke FKI (bukan FPI). Selain nonton pameran, mungkin mereka akan melanjutkan foto-foto lagi. Bareng Chika tentunya hehehe...

Makasih banyak buat Blogerbenteng yang kemarin udah bagi-bagi kaos dan topi gratis. Moga kita bisa berjumpa kembali yaa. Saya pingin ikut kopdar lagi tanggal 29 Juni besok di Bandung. Sayonaraaa...
 
;